Peristiwa-peristiwa besar. Drama-drama Shakespeare. Keduanya memiliki persamaan. Suatu tragedi kehidupan. Seringkali suatu kejadian tercipta di bawah ketidak-sadaran kita semua. Lalu berusaha dianalisa dengan segala macam teori yang, anehnya, kemudian menjadi tenar. Padahal sesungguhnya awal dari kejadian tersebut amat sederhana. Segala sesuatu mulai dari pemikiran kita. Dan dibantu dengan waktu serta kondisi yang tepat, kita mulai menciptakan suatu peristiwa yang kelak akan menjadi kenangan. Baik atau buruk. Tergantung pada persepsi kita masing-masing.
Hidup adalah suatu pentas. Kita adalah suatu pemikiran. Dan riwayat adalah suatu jalan yang kita lalui dalam drama sang waktu. Segala kesedihan, keceriaan, tawa dan tangis akan segera lenyap setelah usainya perjalanan kita dalam dunia ini. Lantas, apa yang akan tersisa kelak? Kesedihan, keceriaan, tawa dan tangis kita, ke manakah? Jika kita telah terbujur kaku dan kehilangan segala rasa dan pikir, akankah segala sesuatu masih punya makna?
Maka pada akhirnya, sang Penulis Lakon, Dia yang Maha Agung, akan menutup kisah ini sambil berkata: “Kisah telah Aku tulis. Maka kini tinggal memilih siapakah aktor dan aktris terbaik yang dapat menjalani drama ini....” Apakah kita terpilih ataukah kita yang justru memilih, jelas bahwa kedua pilihan tersebut memiliki konsekwensi yang sama. Sang Penulis Lakon bukanlah kita. Kita semua hanya menjalani hidup kita sesuai dengan pilihan masing-masing. Oleh sebab itu, kita pula yang akan mempertanggung-jawabkan pilihan tersebut kelak kepadaNya. Kepada mereka yang sedang gundah.
Sumber: http://www.pondokrenungan.com/

0 comments:
Post a Comment